Minggu, 05 Juni 2016

TUGAS 1 (D)
Nama : Baeti Amalia
Nim    : I1B015030

 Pandangan Masyarakat Terhadap Imunisasi

Kata imunisasi erat kaitannya dengan seorang ibu dan anak, imunisasi berarti anak diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal terhadap suatu penyakit tapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain (Notoatmodjo, 2003). Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh, agar tubuh membuat zat anti untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin BCG, DPT dan campak) dan melalui mulut misalnya vaksin polio (Hidayat, 2008). Tujuan imunisasi yaitu untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, program imunisasi juga bertujuan untuk memberikan kekebalan pada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan terjangkitnya oleh suatu penyakit (Ranuh, 2008).
Tetapi pro dan kontrak masih terjadi dikalangan masyarakat, pro-kontra imunisasi pada bayi masih terus berlanjut sampai saat ini. Tentunya semua bersumber dari keinginan orangtua untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Ada yang memberikan manfaat imunisasi lengkap ketika anaknya masih bayi karena memperhatikan kondisi lingkungan saat ini yang dipenuhi penyakit aneh, untuk menolak penyakit-penyakit tersebut tentu tidak bisa hanya berdiam diri, karena itulah orangtua kemudian memberikan imunisasi pada anaknya. Meskipun begitu, masih ada orangtua yang tidak mengijinkan anaknya diimunisasi dengan berbagai alasan. Salah satu penyebab keengganan orangtua adalah belum jelasnya kehalalan vaksin yang tersedia. Orangtua khawatir, memberikan vaksin yang haram sama saja dengan menyuapi makanan haram padi bayi mereka.
Sebetulnya jika masyarakat termasuk orangtua yang memikirkan kehalalan vaksin, masyarakat bisa bernafas lega karena Indonesia sudah mampu memproduksi vaksin sendiri, sehingga lebih terjaga kadar halalnya. Selain itu, anda juga akan memahami bahwa gangguan kesehatan pada anak juga bisa jadi dipicu oleh hal-hal selain imunisasi itu sendiri seperti kekurangan gizi, kebersihan yang kurang, serta ketahanan tubuh yang tidak terjaga. Jika hal-hal tersebut dikesampingkan, bukan tidak mungkin, resiko anak terjangkit penyakit tertentu akibat tidak diimunisasi menjadi semakin besar. Jadi, ketika fatwa MUI sudah menghalalkan, tentunya keputusan tersebut diambil setelah melalui syarat-syarat halal yang berlaku. Di luar perbedaan pendapat yang terjadi, disarankan juga bagi orangtua untuk tetap memfokuskan dirinya pada pemberian makanan bergizi, pemeliharaan kebersihan, serta pendampingan yang baik pada anak, daripada sibuk dengan argumentasi tentang  pro-kontra imunisasi pada bayi.


DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Ranuh, I.G.N. 2008. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Doketer Anak Indonesia





 TUGAS 1 (C)
Nama   : Baeti Amalia
Nama   : I1B015030

Peran Perawat Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial

Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit (Potter & Perry, 2005). Salah satu jenis infeksi adalah Infeksi nosokomial, nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien dari rumah sakit pada saat pasien menjalani proses asuhan keperawatan. Infeksi nosokomial pada umumnya terjadi pada pasien yang dirawat di ruang seperti ruang perawatan anak, perawatan penyakit dalam, perawatan intensif, dan perawatan isolasi, infeksi ini juga tidak menunjukan tanda dan gejala infeksi pada saat masuk rumah sakit (Darmadi, 2008).
Berdasarkan uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh dari rumah sakit yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan pasien tersebut selama dirawat maupun sesudah dirawat yang dapat terjadi karena intervensi yang dilakukan di rumah sakit seperti pemasangan infus, kateter, dan tindakan-tindakan operatif lainnya. Pencegahan infeksi nosokomial membutuhkan keterpaduan, pemantauan, dan program dari semua tenaga kesehatan profesional yang meliputi: dokter, perawat, terapis, apoteker, dan lain-lain (Nursalam, 2009). Peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan sangat berkaitan dengan terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit dan perawat yang bertanggung jawab menyediakan lingkungan yang aman bagi klien terutama dalam pengendalian infeksi dalam proses keperawatan.
Perawat juga bertindak sebagai pelaksana terdepan dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial yaitu dengan cara (1) membatasi transmisi organisme antara pasien dalam melakukan perawatan pasien secara langsung melalui cuci tangan, menggunakan sarung tangan, teknik aseptik yang tepat, strategi isolasi, sterilisasi dan teknik desinfektan; (2) mengendalikan lingkungan yang berisiko untuk infeksi; (3) melindungi pasien dengan penggunaan profilaksis antimikroba yang tepat, nutrisi, dan vaksinasi; (4) surveilans infeksi, mengidentifikasi dan mengendalikan wabah; (5) pencegahan infeksi pada tenaga kesehatan; (6) meningkatkan pelayanan asuhan keperawatan secara terus menerus dengan memberikan pendidikan; (7) menyediakan layanan konsultasi mengenai semua aspek pencegahan dan pengendalian infeksi dengan menggunakan metode yang berdasarkan penelitian, praktisi, dan keefektifan biaya (Brooker, 2008).


DAFTAR PUSTAKA

Brooker, C. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC

Darmadi, 2008. Infeksi Nosokomial Problematika dan Pengendaliannya. Jakarta: Salemba Medika

Nursalam. 2009. Manajemen Keperawatan.edisi 3. Jakarta: Salemba Medika 
     
Potter, P.A, Perry, A.G. 2005. Buku  Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4. Volume 1. Alih Bahasa: Yasmin Asih, dkk. Jakarta: EGC

Sabtu, 04 Juni 2016


 TUGAS 1 (B)
Nama   : Baeti Amalia
Nim      : I1B015030


Peran Perawat Dalam Keselamatan Pasien

Rumah sakit sebagai instansi pelayanan kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien harus mengutamakan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit. Pasien sebagai pengguna pelayanan kesehatan berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumah sakit. Instansi rumah sakit yang bertanggungjawab dalam hal keamanan tersebut, keamanan itu sendiri merupakan prinsip yang paling fundamental dalam pemberian pelayanan kesehatan maupun keperawatan, dan sekaligus aspek yang paling kritis dari manajemen kualitas (Arikunto, 2002).
Sedangkan keselamatan pasien (patient safety) itu sendiri merupakan suatu variabel untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas pelayanan keperawatan yang berdampak terhadap pelayanan kesehatan, merupakan salah satu komponen penting dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan terutama keperawatan (Kusnanto, 2004). Peranan  perawat dalam penerapan keselamatan pasien idealitanya yaitu, sebagai seorang perawat harus memiliki sikap caring terhadap pasien, mampu berkomunikasi dengan baik terhadap pasien, memiliki rasa tanggungjawab yang besar terhadap profesinya, mampu mengemban amanah dengan melaksanakan tugas dengan baik karena keselamatan dan kesembuhan pasien yang menjadi prioritas utama seorang perawat. Penting juga bagi perawat untuk dapat meningkatkan pengetahuan dalam bidang teknologi informasi agar prosedur perawatan yang dilakukan dapat terintegrasi dengan baik.
Sedangkan pada realitanya setiap pasien masih mengeluhkan tindakan dan kelambanan para petugas kesehatan. Mereka merasa dirugikan karena pelayanan yang masih kurang baik dan masalah sistem yang kurang handal baik untuk diagnosis, komplikasi terapi, respon terhadap intervensi, dan masalah komunikasi yang terkait dengan prosedur perawatan pasien tersebut. Sedangkan pada dasarnya program keselamatan pasien bertujuan untuk menurunkan angka Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang sering terjadi pada pasien selama dirawat di rumah sakit sehingga sangat merugikan baik pasien sendiri dan pihak rumah sakit. Kejadian tidak diharapkan bisa disebabkan oleh berbagai faktor antara lain beban kerja perawat yang tinggi, alur komunikasi yang kurang tepat, penggunaan sarana kurang tepat dan lain sebagainya (Nursalam, 2011).  


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktek Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC

Nursalam. 2011. Manajemen Keperawatan.edisi 3. Jakarta: Salemba Medika






 TUGAS 1 (A)
Nama   : Baeti Amalia
Nim      : I1B015030

Penanganan Luka Lecet
 
Pengalaman yang pernah saya alami ketika saya jatuh dari motor dan mendapat luka lecet pada lengan dan kaki saya. ketika itu saya berkendara pada saat hujan lebat dan saya mengendarai motor dengan cepat, pada saat itu saya kehilangan konsentrasi karena tubuh saya sudah menggigil kedinginan dan akhirnya kecelakaan itu terjadi. Saya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat  karena pada saat itu darah keluar dari hidung saya dan kondisi saya yang tidak sadarkan diri. Sesampainya di rumah sakit perawat melakukan penanganan terhadap kondisi dan luka yang saya alami, setelah saya sadarkan diri perawat melakukan perawatan luka pada bagian hidung, lengan dan kaki saya.
Pertama perawat membersihkan luka yang ada di lengan dan kaki saya dengan air yang bersih. Setelah itu diberikan larutan povidone iodine dan salep antibiotik lalu di balut dengan kassa yang steril. Serangkaian perawatan luka telah selesai kondisi saya semakin membaik saya langsung diizinkan untuk pulang dan tidak perlu di rawat inap karena luka saya termasuk luka ringan yang dapat sembuh dengan baik bila tidak terjadi komplikasi, setalah itu saya melakukan perawatan tersebut di rumah dengan bantuan orangtua saya agar tidak terjadi komplikasi pada lengan dan kaki saya. Dari kejadian kecelakan motor yang saya alami, saya jadi lebih berhati-hati lagi apabila berkendara, karena keamanan dalam berkendara sangatlah penting.
 Contoh kecil yang harus di taati apabila kita berkendara sebaiknya memakai helm. Dalam berkendara pemaikaian helm sangatlah penting, karena dengan memakai helm kepala kita dapat terlindungi dari angin, hujan dan apabila terjadi hal yang tidak diinginkan kepala kita tetap terjaga apabila membentur benda asing. Apabila musim hujan sebaiknya kita tidak mengendarai motor atau berhenti terlebih dahulu menunggu hujan reda, karena resiko pengendara motor yang sangat besar apabila terkena air hujan yang dapat menyebabkan tubuh kedinginan akhirrnya konsentrasi berkendara menjadi hilang, dan kondisi tersebut yang dapat menimbulkan terjadinya sebuah kecelakaan.